Welcome to >>> Kotek_Kotek Area

Jumat, 08 Juni 2012

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


                    RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
                                                      (RPP)



SEKOLAH : SMAN 1 Wangi-Wangi
MATA PELAJARAN : Bahasa Indonesia
KELAS : X
SEMESTER : 1

A. STANDAR KOMPETENSI :
     Berbicara : 
2. Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi melalui kegiatan berkenalan, berdiskusi,    dan bercerita

B. KOMPETENSI DASAR :
    2.2 Mendiskusikan  masalah (yang ditemukan dari berbagai berita, artikel, atau buku)

C. MATERI PEMBELAJARAN :
     Teks berita, artikel, buku  yang berisi informasi aktual (misalnya, AIDS/HIV, SARS, bencana alam)
     1. Penentuan masalah dalam berita
     2. Daftar kata sulit dan maknanya

D. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI :
NoIndikator Pencapaian KompetensiNilai Budaya Dan Karakter BangsaKewirausahaan/ Ekonomi Kreatif
1
Mencatat masalah dari berbagai sumber
• Bersahabat/ komunikatif
• Kepemimpinan
2
Menanggapi masalah dalam berita, artikel, dan buku
• Tanggung jawab

3
Mengajukan saran dan pemecahan terhadap masalah yang disampaikan


4
Mendaftar kata-kata sulit dalam teks bacaan


5
membahas maknanya



E. TUJUAN PEMBELAJARAN* :
Siswa dapat :
1) Mencatat masalah dari berbagai sumber
2) Menanggapi masalah dalam berita, artikel, dan buku 
3) Mengajukan saran dan pemecahan terhadap masalah yang disampaikan
4) Mendaftar kata-kata sulit dalam teks bacaan
5) membahas maknanya

F. METODE PEMBELAJARAN :
 Penugasan
 Diskusi
 Tanya Jawab
 Ceramah
 Demonstrasi

G. Strategi Pembelajaran
Tatap MukaTerstrukturMandiri
• Mengamati Teks berita, artikel, buku  yang berisi informasi aktual.
• Mencari dan mengumpulkan data (misalnya, AIDS/HIV, SARS, bencana alam)
• Siswa dapat Mencatat masalah dari berbagai sumber.
• Menuliskan kata sulit dalam teks bacaan
• Mendaftar kata-kata sulit dalam teks bacaan
• Siswa dapat membahas maknanya.

H. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN :

NoKegiatan BelajarNilai Budaya Dan KarakterBangsa
1
Kegiatan Awal :
  • Guru menjelaskan Tujuan Pembelajaran hari ini.
  • Guru mendeskripsikan berbagai pengalaman.
Bersahabat/ komunikatif
2
Kegiatan Inti :
? Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi :
  • Secara bergiliran siswa mencari artikel, atau buku yang berhubungan dengan  lingkungan daerah masing-masing  (misalnya, Folio, SARS, atau bencana alam yang terkait dengan daerah setempat)*
  • Membaca berita,  artikel atau buku.
  • Mengidentifikasi masalah dalam artikel
? Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi,
  • Mendiskusikan masalah
  • Melaporkan hasil diskusi
? Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, Siswa:
  • Menyimpulkan tentang hal-hal yang belum diketahui
  • Menjelaskan tentang hal-hal yang belum diketahui.
Tanggung jawab
3
Kegiatan Akhir :
  • Refleksi
  • Guru menyimpulkan pembelajaran hari ini.
Bersahabat/ komunikatif

I. ALOKASI WAKTU :
    4  x 40 menit

J. SUMBER BELAJAR/ALAT/BAHAN :
Buku cerita lucu/ kaset cerita
Pengalaman langsung
Bukupendamping :Syamsuddin A.R. Kompetensi Berbahasa dan Sastra Indonesia Kelas X. Surakarta: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2006.


K. PENILAIAN :
      Jenis Tagihan:
  • Tugas individu
  • Ulangan
      Bentuk Instrumen:
  • Uraian bebas
  • Pilihan ganda
  • Jawaban singkat
                                            
Mengetahui, 2011

Kepala Sekolah                                                                      Guru Mata Pelajaran



NIP.                                                                                    NIP.

Senin, 04 Juni 2012

jalan-jalan yuk




BOM dan SERSAN

Cerita ini terjadi di sebuah gedung yg dipasangi BOM waktu. Seorang SERSAN bertugas
    menjinakan BOM dgn dipandu via radio oleh komandannya
    ”Kijang satu ke kijang dua. Bagaimana kondisi disana?? – Ganti” | ”Saya
    didpn BOM yg akan meledak komandan, mohon
    instruksi – Ganti”
    ”Tolong bersihkan area dulu sersan !” | ”Maksudnya, saya nyapu dan ngepel
    dulu ya komandan? Mohon insruksi ! Ganti ”
    ”Bukaaan ! Semprul km ! Ambil radius beberapa mt dr pusat BOM lalu bersihkan area
    tsb dr obyek yg bs membahayakan” | ”Siap
    Komandan !! ”
    *tak brp lama* ”Lapor Komandan, area sdh dibersihkan. Ganti” | ”Oke, skrg km
    fokus ke BOM !! Brp menit waktu yg tersisa
    sersan ?”
    ”Skrg menunjukan hitungan mundur 15:00:56 komandan !!” | ”Berarti km masih punya waktu 15 menit, Cepat buka tutup
    BOMnya pake obeng !”
    ”Kalo saya buka nanti garansinya batal donk komandan?” | ”SEMPRUL KAMU !!
    Emank barang elektronik pake garansi? Cepat
    Bongkar !!” | ”SIAP”
    ”BOM sdh terbuka komandan sekarang ada bnyk kabel, mohon instruksi Ganti”|
    ”Skrg potong kabel yg terdekat ” | ”Siap,
    Laksana…!”*prettt*
    Tiba2 pembicaraan terpotong, kondisi markas Heboh dan komandanpun marah
    marah sambil memaki kebodohan si sersan.
    ”Itu prajurit dr mana sih? Goblok dihabisin sendiri. Saya suruh potong kabel di BOM
    itu, bukan kabel hedset yg nempel di badan dia !!
    ”
    Lalu operator mengaktifkan komunikasi cadangan , begitu nyala terdengar suara
    ”kemana-kemana-kemana” ternyata lagunya
    ayu tingting !!
    Komandan dan anak buahnya di markas mendengarkan dgn geram. Akhirnya stelah
    10detik SERSAN mengangkat jg dgn santai
    ”Panggilan dicopy, siap menerima instruksi ” | ”HEHH !! Itu tadi kamu apaan? Saya
    panggil kok ada suara musik seperti itu HAHH ??
    ”Itu namanya RBT komandan, skrg kan udah biasa” | ” ini jalur militer sersan !!
    jgn main2 kalo berhadapan dgn BOM, MENGERTI?” |
    ”SIAP”
    Dimarkas, komandan liat buku nyari data tentang BOM jenis apa itu “Sersan ! Tlg
    dicari dr mn asalnya yg tadi ! Saya tunggu
    datanya !! “
    “Asalnya dr Depok komandan, nama penyanyinya Ayu Tingting ” | “Arghh… Saya
    minta data BOMnya bukan RBT yg tadi” | “Oh maap
    komandan “
    “BOM sudah dilokalisir, ada 4 kabel, minta instruksi” | ” skrg potong kabel hijau ” |
    “siap” | “bgmn sersan? Sdh mati? ” | ” belum “
    “Tadi km ptong kabel warna apa?” | “Hijau komandan” | “ap gk salah potong km?” |”sumpah tadi sy ptong yg ijo, mungkin komandan yg salah”
    ” Monyong, udah salah pake ngeyel. Skrg tinggal kabel warna apa aj?” | “Merah, Hitam dan Hijau” | ” HAH ! Knp yg hijau masih ada?”
    “Lah, yg hijau memang ada 2 komandan 1 hijau daun & 1 lg hijau langit” | ” o_0
    NGACO !! Langit itu biru bkn hijau | tp dikampung
    saya ijo
    “KOPLAK !! Berarti yg km potong tadi yg ijo langit?” | ” ya komandan, siap menerima
    instruksi ” | ” Dasar GOBLOK “*sambil geleng2
    kepala”
    Komandan ngomelin ajudannya “Bilangin Personalia, lain kali klo mau rekrut
    anggota tanya dulu apa warna langit
    dikampungnya”
    Terdengar si SERSAN panik “Kondisi darurat ! BOM akan meledak, mohon instruksi” | “
    OK, ikuti kata2 saya ” | “SIAP”
    “assyhadualla” | “ASSYHADUALLA” | “illa…” | “ILLA…” *sersan bingung* | “haillallah”| “HAILLALLAH”|”waassyhaduanna”|”WAASSYHADUANNA” | “muhammadarrosullullah” | “MUHAMMADARROSULLULLAH”
    “*tambah bingung*”..?!?!?”
    DUUUAAARRRRR !!! (Innalillahi wainnailaihiroji'un) *TAMAT*


Sumber : http://yugo21.blogspot.com/2012/05/kumpulan-cerita-lucu-paling-gokil.html#ixzz1wpvXtowx

TEKNOLOGI INDONESIA

    3 Orang tengah terdiam menikmati kehangatan sauna, yaitu orang dari Amerika, Jepang dan Indonesia. Keheningan didalam ruangan sauna dipecahkan oleh bunyi, ..bip,…bip,….bip… Orang Amerika membuka telapak tangan kirinya, dan membaca tulisan yang tertulis ditelapak tangannya itu. Dua rekan se ‘sauna’ nya dengan kagum melihat tulisan yang muncul ditelapak tangan orang Amerika tersebut.
    “Oh, telapak tangan saya telah ditanamkan chips, saya dapat langsung menerima pesan SMS tanpa alat , SMS nya langung tampil ditelapak tangan saya,…” ujar si Amerika ketika melihat kedua rekannya bengong.
    Sesaat kemudian terdengar dering telepon, orang Jepang mengangkat tangan kanannya, jempol didekatkan ke telinga sedangkan jari kelingking kebibirnya, “Oh maaf, saya terima telepon dulu, tangan saya sudah berisi chips, saya dapat menerima dan berbicara melalui 2 jari saya tanpa menggunakan HP” kata si Jepang.
    Melihat semua itu, orang Indonesia mulai gugup, Apa yang bisa saya tunjukkan untuk mengalahkan orang orang ini? pikirnya. Karena stress, keinginannya untuk buang air besar tidak tertahankan lagi.
    Usai buang air, dia kembali lagi ke ruang sauna, tetapi karena tidak biasa membasuh bokongnya dengan kertas toilet, seuntai kertas toilet masih berjuntai di belahan bokongnya.
    Dengan keheranan orang Jepang dan orang Amerika menunjuk ke untaian kertas ‘sisa’ tsb dan berkata: “Kertas apa itu yang tergantung dibokong anda…?”. “Oh maaf, saya baru terima Fax..” jawab orang Indonesia tersebut.


Sumber : http://yugo21.blogspot.com/2012/05/kumpulan-cerita-lucu-paling-gokil.html#ixzz1wprUq2qW

Jumat, 01 Juni 2012

kisa inspirasi : Ketika Aku Sudah Tua


Ketika aku sudah tua, bukan lagi aku yang semula.
Mengertilah, bersabarlah sedikit terhadap aku……
Ketika pakaianku terciprat sup, ketika aku lupa bagaimana mengikat sepatu, ingatlah bagaimana dahulu aku mengajarmu.

Ketika aku berulang-ulang berkata-kata tentang sesuatu yang telah
bosan kau dengar, bersabarlah mendengarkan, jangan memutus pembicaraanku.
Ketika kau kecil, aku selalu harus mengulang cerita yang telah
beribu-ribu kali kuceritakan agar kau tidur.

Ketika aku memerlukanmu untuk memandikanku, jangan marah padaku.
Ingatkah sewaktu kecil aku harus memakai segala cara untuk membujukmu
mandi?

Ketika aku tak paham sedikitpun tentang tehnologi dan hal-hal baru,
jangan mengejekku.
Pikirkan bagaimana dahulu aku begitu sabar menjawab setiap “mengapa”
darimu.

Ketika aku tak dapat berjalan, ulurkan tanganmu yang masih kuat untuk
memapahku.
Seperti aku memapahmu saat kau belajar berjalan waktu masih kecil.
Ketika aku seketika melupakan pembicaraan kita, berilah aku waktu untuk mengingat.

Sebenarnya bagiku, apa yang dibicarakan tidaklah penting, asalkan kau
di samping mendengarkan, aku sudah sangat puas.

Ketika kau memandang aku yang mulai menua, janganlah berduka.
Mengertilah aku, dukung aku, seperti aku menghadapimu ketika kamu
mulai belajar menjalani kehidupan.
Waktu itu aku memberi petunjuk bagaimana menjalani kehidupan ini,
sekarang temani aku menjalankan sisa hidupku.

Beri aku cintamu dan kesabaran, aku akan memberikan senyum penuh
rasa syukur, dalam senyum ini terdapat cintaku yang tak terhingga
untukmu.

Pesan:
Hormati Ayah dan Ibumu sebelum mereka meninggalkan anda dengan kedukaan yang mendalam.

apa yang dimaksud dengan deskripsi tempat


Deskripsi Tempat
Wacana deskripsi adalah wacana yang berisi penggambaran atau melukiskan suatu objek, tempat, atau peristiwa tertentu kepada pembaca secara jelas dan  terperinci sehingga pembaca seolah-olah melihat dan merasakan sendiri apa yang dideskripsikan oleh penulis.
Ada beberapa macam /pola pengembangan wacana deskripsi salah satunya adalah deskripsi spasial. Deskripsi spasial adalah wacana yang menggambarkan objek secara detail khususnya ruangan, benda,atau tempat.
Ciri-ciri Wacana Deskripsi:
1. Menggambarkan atau melukiskan suatu benda, tempat, atau suasana tertentu.
2. Penggambaran dilakukan dengan melibatkan panca indra (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan).
3. Bertujuan agar pembaca seolah-olah melihat atau merasakan sendiri objek yang dideskripsikan.
4. Menjelaskan ciri-ciri objek seperti warna, ukuran, bentuk, dan keadaan suatu objek secara terperinci.
Deskripsi tempat berdasarkan pada tiga hal yaitu suasana hati, bagian yang relevan, dan urutan kejadiannya. Dalam kaitannya dengan suasana hati  yang manakah yang paling menonjol untuk dijadikan landasan. Berkaitan dengan bagian yang relevan penulis deskripsi juga harus mampu memilih detail-detail yang relevan untuk mendapatkan gambaran tentang suasana hati. Sedangkan berkaitan dengan urutan penyampaian, pengarang dituntut pula mampu menetapkan urutan yang paling baik dalam menampilkan detail yang dipilih. Mungkin seorang penulis mengurutkan dari bagian yang tidak penting ke bagian yang penting atau sebaliknya.

CONTOH
Ruangan berukuran 3,5m x 3,5m ini sungguh sangat nyaman ditempati, dinding sebelah utara dan barat dicat dengan warna hijau sedangkan dinding bagian selatan dan timur dicat warna putih. Pintu ruangan berada di sebelah utara bersanding dengan jendela yang berhiaskan poster kalender, ketika membuka pintu maka akan didapati sebuah meja kayu yang berada di dekat pintu ruangan. Di atas meja rak buku berisi beberapa kitab dan buku-buku ilmiah diletakkan mepet dengan dinding sebelah utara bersanding dengan tiga gelas kecil yang berisi potongan kertas dan beberapa alat tulis. Di samping kiri meja terdapat sebuah lemari berukuran sedang berwarna hitam diletakkan mepet dengan didinding sebelah utara. Sebuah kasur empuk berwarna ungu campur biru terbentang diatas karpet coklat yang diletakkan mepet dengan dinding sebelah barat yang dihiasi beberapa poster bola. Sebelah selatan ruangan hanya beberapa bungkus rokok yang ditempel berbentuk lingkaran dan satu poster mobil jaguar yang menghiasi dinding.
Sementara itu, di bagian timur ruangan terdapat sebuah meja makan warna hitam yang diletakkan mepet dengan dinding, di atas meja tersebut terdapat sebuah dispenser dan rak piring serta keranjang berukuran kecil tempat buah-buahan. Di samping kanan meja, ada reskuker yang diletakkan di atas cosmos tempat penyimpana beras. Sementara itu, didekat sudut kiri dinding timur terdapat sebuah cermin ukuran sedang dan beberapa bungkus rokok yang ditempel berbentuk lingkaran pada dinding, tidak jauh dari situ tepatnya di belakang pintu terdapat beberapa pakaian yang bergantungan dihanger. Keindahan ruangan ini rasanya semakin lengkap, dengan langit-langit ruangan berwarna biru yang diterangi dengan lampu Philips 20W. Diluar ruangan, terdapat sebuah gode-gode kecil berukuran 1m x 1,5m yang biasa digunakan untuk tempat istirahat dan bersenda-gurau. Hembusan angin yang tiada henti-hentinya di tempat itu menambah sejuknya suasana di ruang kamar kos milik Sam ini.

Pengertian/Definisi Wacana Menurut Para Ahli


Definisi Wacana Menurut Para Ahli
Dalam pengertian linguistik, wacana adalah kesatuan makna (semantis) antarbagian di dalam suatu bangun bahasa. Oleh karena itu wacana sebagai kesatuan makna dilihat sebagai bangun bahasa yang utuh karena setiap bagian di dalam wacana itu berhubungan secara padu. Selain dibangun atas hubungan makna antarsatuan bahasa, wacana juga terikat dengan konteks. Konteks inilah yang dapat membedakan wacana yang digunakan sebagai pemakaian bahasa dalam komunikasi dengan bahasa yang bukan untuk tujuan komunikasi.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikemukakan bahwa wacana yaitu (1) komunikasi verbal; percakapan; (2) lingkungan keseluruhan tutur yang merupakan suatu kesatuan; (3) lingkungan satuan bahasa terlengkap yang direalisasikan dalam bentuk karangan atau laporan utuh, seperti novel, buku, artikel, pidato atau khutbah; (4) lingkungan atau prosedur berpikir secara sistematis; kemampuan atau proses memberikan pertimbangan berdasarkan akal sehat; (5) pertukaran ide secara verbal.
Beberapa definisi dan pendapat dari pakar-pakar bahasa mengenai wacana:
Menurut Hawthorn (1992) wacana adalah komunikasi kebahasaan yang terlihat sebagai sebuah pertukaran di antara pembicara dan pendengar, sebagai sebuah aktivitas personal di mana bentuknya ditentukan oleh tujuan sosialnya.
Sedangkan Roger Fowler (1977) mengemukakan bahwa wacana adalah komunikasi lisan dan tulisan yang dilihat dari titik pandang kepercayaan, nilai, dan kategori yang termasuk di dalamnya. Foucault memandang wacana kadang kala sebagai bidang dari semua pernyataan, kadang kala sebagai sebuah individualisasi kelompok pernyataan, dan kadang kala sebagai sebuah praktik regulatif yang dilihat dari sejumlah pernyataan.
Aminuddin, Wacana adalah kesuluruhan unsur-unsur yang membangun perwujudan paparan bahasa dalam peristiwa komunikasi. Wujud konkretnya dapat berupa tuturan lisan maupun teks tulis. Lebih lanjut, ia menyatakan ruang lingkup analisis wacana selain merujuk pada wujud objektif paparan bahasa berupa teks, juga berkaitan dengan dunia acuan, konteks, dan aspek pragmatik yang ada pada penutur maupun penanggap.
Soeseno Kartomihardjo, menyatakan bahwa analisis wacana merupakan cabang ilmu bahasa yang dikembangkan untuk menganalisis suatu unit bahasa yang lebih besar daripada kalimat dan lazim disebut wacana. Unit yang dimaksud dapat berupa paragraf, teks bacaan, undangan, percakapan, cerpen, dan sebagainya. Analisis wacana berusaha mencapai makna yang persis sama atau paling tidak sangat dekat dengan makna yang dimaksud oleh pembicara dalam wacana lisan atau oleh penulis dalam wacana tulisan. Analisis wacana banyak menggunakan pola sosiolinguistik, suatu cabang ilmu bahasa yang menelaah bahasa di dalam masyarakat.
Michael Stubbs, menyatakan bahwa analisis wacana merujuk pada upaya mengkaji pengaturan bahasa di atas kalimat atau klausa, dan karenanya mengkaji satuan-satuan kebahasaan yang lebih luas, seperti pertukaran percakapan atau teks tulis. Analisis wacana juga memperhatikan bahasa pada waktu digunakan dalam konteks sosial, dan khususnya interaksi atau dialog antar penutur.
Jan Renkema, mengemukakan studi wacana adalah disiplin ilmu yang ditekuni untuk mencari hubungan antara bentuk dan fungsi di dalam komunikasi verbal. Studi wacana merupakan disiplin ilmu linguistik yang bertujuan menyelidiki bukan saja hubungan antara bentuk dan makna, melainkan juga keterkaitan antara bentuk dan fungsi bahasa di dalam komunikasi yang menggunakan bahasa sebagai sarananya.
 Abdul Chaer, Wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana dikatakan lengkap karena di dalamnya terdapat konsep, gagasan, pikiran atau ide yang utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau oleh pendengar (dalam wacana lisan) tanpa keraguan apapun. Wacana dikatakan tertinggi atau terbesar karena wacana dibentuk dari kalimat atau kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan gramatikal dan persyaratan kewacanaan lainnya (kohesi dan koherensi). Kekohesian adalah keserasian hhubungan antar unsur yang ada. Wacana yang kohesif bisa menciptakan wacana yang koheren (wacana yang baik dan benar).
B.H.Hoed, Wacana adalah suatu bangun teoritis yang bersifat abstrak. Wacana dikaji sebagai bangun teoritis yang memperlihatkan hubungan antara satu proposisi atau sejumlah proposisi dengan kerangka acuannya yang berupa konteks dan sittuasi. Dalam batasan tersebut, B.H.Hoed membedakan antara wacana yang bersifat abstrak dan termasuk dalam tataran langue dengan teks yang bersifat konkret (merupakan realisasi wacana) dan termasuk dalam tataran parole.
Bambang Yudi Cahyono, Analisis wacana adalah ilmu yang mengkaji organisasi wacana di atas tingkat kalimat atau klausa. Wacana dibentuk dari satuan bahasa di atas klausa atau kalimat, baik lisan seperti percakapan maupun tulis seperti teks-teks tertulis.
Norman Fairclough, Wacana adalah pemakaian bahasa tampak sebagai sebuah bentuk praktek sosial, dan analisis wacana adalah analisis mengenai bagaimana teks bekerja/berfungsi dalam praktek sosia-budaya. Dalam hal ini Fairclough memandang wacana sebagai bentuk praktek sosial yang terungkap melalui pemakaian bahasa. Dengan demikian analisis wacana berusaha menjelaskan bagaimana bahasa (teks) berfungsi mengungkapkan realitas sosial budaya. Aspek-aspek yang dikaji meliputi bentuk, struktur, dan organisasi teks mulai dari tataran yang terendah fonologi (fonem), gramatika (morfem, kata, frase, klausa, dan kalimat), leksikon (kosakata), sampai dengan tataran yang lebih tinggi seperti sistem pergantian percakapan, struktur argumentasi, dan jenis-jenis aktivitas.
Gillian Brown dan George Yule, Analisis wacana adalah analisis atas bahasa yang digunakan. Analisis wacana bertitik tolak dari segi fungsi bahasa, artinya analisis wacana mengkaji untuk apa bahasa ittu digunakan. Di dalam analisisnya kedua ahli tersebut memfokuskan pada dua fungsi utama : (1) fungsi transaksional, yaitu fungsi bahasa unttuk mengungkapkan isi, dan (2) fungsi interaksional, yaitu fungsi bahasa yang terlibat dalam pengungkapan hubungan-hubungan sosial dan sikap-sikap pribadi.
Moeliono menyatakan bahwa wacana adalah rentetan kalimat yang berkaitan sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat itu atau rentetan kalimat yang berkaitan yang menghubungkan proposisi yang satu dengan yang lain, membentuk satu kesatuan.
Menurut Djajasudarma, wacana adalah (1) perkataan, ucapan, tutur yang merupakan satu kesatuan; (2) keseluruhan tutur. Tarigan mengemukakan bahwa wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koheresi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan atau tertulis.
Michael Mc Carthy, Analisis wacana berkaitan dengan studi tentang hubungan antara bahasa dengan konteks dalam pemakaian bahasa. Analisis wacana mempelajari bahasa dalam pemakaian : semua jenis teks tetulis dan data lisan, dari percakapan sampai dengan bentuk-bentuk percakapan yang sangat melembaga. Analisis wacana mencakup studi tentang interaksi lisan atau tulis. Senada dengan Brown dan Yule, Carthy juga berpandangan bahwa analisis wacana menekankan pada hubungan antara bahasa dengan konteks dalam pemakaian bahasa, baik berkenaan dengan teks tertulis maupun data lisan.
Malcolm Coulthard, Terlihat adanya perbedaan penggunaan istilah antara wacana lisan dengan teks tulisan, tetapi perbedaan tersebut tidak berlaku secara universal. Istilah teks lebih mengacu pada lisan, sedangkan istilah wacana lebih mengacu pada tulisan.
Marahim mengartikan wacana sebagai kemampuan untuk maju (dalam pembahasan) menurut urut-urutan yang teratur dan semestinya, dan komunikasi buah pikiran, baik lisan maupun tulisan, yang resmi dan teratur. Jika defenisi ini kita pakai sebagai pegangan, maka dengan sendirinya semua tulisan yang teratur, yang menurut urut-urutan yang semestinya, atau logis, adalah wacana. Karena itu, sebuah wacana harus punya dua unsur penting, yakni kesatuan (unity) dan kepaduan (coherence).
Menurut Kridalaksana, wacana adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan kesatuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk karangan yang utuh (novel, buku, seri ensiklopedia, dsb.), paragraph, kalimat, atau kata yang membawa amanat yang lengkap.
I. Praptomo Baryadi, Wacana adalah satuan bahasa terlengkap yang dinyatakan secara lisan seperti pidato, ceramah, kutbah, dan dialog, atau secara tertulis seperti cerpen, novel, buku, surat, dan dokumen tertulis, yang dilihat dari segi bentuk bersifat kohesif, saling terkait dan dari segi makna bersifat koheren, terpadu.
Pendapat lebih jelas lagi dikemukakan oleh Jusuf Syarif Badudu (2000) yang memaparkan; wacana sebagai rentetan kalimat yang berkaitan dengan, yang menghubungkan proposisi yang satu dengan proposisi yang lainnya, membentuk satu kesatuan, sehingga terbentuklah makna yang serasi di antara kalimat-kalimat itu. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa wacana merupakan kesatuan bahasa terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan,yang mampu mempunyai awal dan akhir yang nyata,disampaikan secara lisan dan tertulis.
Sementara itu Samsuri memberi penjelasan mengenai wacana, menurutnya;
wacana ialah rekaman kebahasaan yang utuh tentang peristiwa komunikasi, biasanya terdiri atas seperangkat kalimat yang mempunyai hubungan pengertian yang satu dengan yang lain. Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat pula memakai bahasa tulisan.
Lull (1998) memberikan penjelasan lebih sederhana mengenai wacana, yaitu cara objek atau ide diperbincangkan secara terbuka kepada publik sehingga menimbulkan pemahaman tertentu yang tersebar luas. Mills (1994) merujuk pada pendapat Foucault memberikan pendapatnya yaitu wacana dapat dilihat dari level konseptual teoretis, konteks penggunaan, dan metode penjelasan.
Dari sudut bentuk bahasa, atau yang bertalian dengan hierarki bahasa, yang dimaksud dengan wacana adalah bentuk bahasa di atas kalimat yang mengandung tema ini biasanya terdiri atas alinea-alinea, anak-anak bab, bab-bab, atau karangan-karangan utuh, baik yang terdiri atas bab-bab maupun tidak.
Berdasarkan level konseptual teoretis, wacana diartikan sebagai domain dari semua pernyataan, yaitu semua ujaran atau teks yang mempunyai makna dan mempunyai efek dalam dunia nyata. Wacana menurut konteks penggunaannya merupakan sekumpulan pernyataan yang dapat dikelompokkan ke dalam kategori konseptual tertentu. Sedangkan menurut metode penjelasannya, wacana merupakan suatu praktik yang diatur untuk menjelaskan sejumlah pernyataan.
Dari uraian di atas, jelaslah terlihat bahwa wacana merupakan suatu pernyataan atau rangkaian pernyataan yang dinyatakan secara lisan ataupun tulisan dan memiliki hubungan makna antarsatuan bahasanya serta terikat konteks. Dengan demikian apapun bentuk pernyataan yang dipublikasikan melalui beragam media yang memiliki makna dan terdapat konteks di dalamnya dapat dikatakan sebagai sebuah wacana.